Buku Besar Peminum Kopi, Belajar Teknik Catur Melalui Fiksi Andrea Hirata

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

“Buku Besar Peminum Kopi” karya Andrea Hirata membikin saya bernostalgia bakal tiga bukunya terdahulu, yaitu: “Maryamah Karpov”, “Padang Bulan”, dan “Cinta di Dalam Gelas”.

Buku ini diterbitkan ulang di awal tahun 2020 lampau oleh penerbit Bentang Pustaka dalam corak Original Story.

“Buku Besar Peminum Kopi” bercerita tentang latar belakang hidup Nong nan diselingi kisah kelulusan Ikal. Namun sayang, meski lulusan luar negeri, Ikal lulus di saat nan tidak tepat dan dia berhujung dengan bekerja di warung om L.

Pekerjaannya ini membikin Ikal mengelompokkan jenis orang nan datang ke warung pamannya nan pemarah menjadi 7. Klasifikasi ini dia buat berasas pesanan kopi dan kebiasaan mereka.

Menurutnya, semakin pahit kopi nan mereka minum, maka semakin pahit pula kisah hidupnya. Sementara mereka nan datang ke warung kopi hanya untuk memesan teh tawar adalah sekelompok orang nan menyia-nyiakan hidup.

Meski awal novel ini agak membosankan tapi alur menjadi seru sejak Ikal berjumpa Nong. Keduanya pun berkawan dekat. Selain itu juga ada Midah, Selamot, Nong, Bron, M. Nur nan juga menjadi kawan Ikal di Kampungnya, Ketumbi.

Nong dikisahkan mempunyai mantan suami berjulukan Matarom. Dia adalah juara catur memperkuat 2 tahun di kampung mereka. Akibat sakit hati pada masa lalunya, Nong beriktikad mengalahkan Matarom dalam permainan unik laki-laki ini.

Kebetulan, Ikal mempunyai kawan kuliah nan grandmaster catur dari Georgia. Darinyalah Nong belajar bermain catur. Ia mau mendobrak sejarah di kampungnya dengan menjadi pemain catur wanita pertama.

Tidak ada nan perlu dikomentari, lantaran ini Andrea Hirata jadi saya memang menyukai style bahasa menulisnya sejak awal. Kalimatnya lucu, mengalir, dan unik. Selain itu, ada banyak pelajaran nan bisa dipetik melalui kitab ini, salah satunya tentang catur.

Penulis betul-betul menunjukkan hasil riset nan luar biasa saat memaparkan beberapa teknik bermain catur dalam karya fiksinya ini.

Akhir kata, saya sangat mengagumi karya-karya Andrea Hirata. Buku ini sangat menghibur lantaran ada perumpamaan nan memancing tawa.

Cek buletin dan tulisan lainnya di GOOGLE NEWS