Heboh Foto Mesum Taylor Swift Rekayasa AI Beredar

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Jakarta -

Taylor Swift jadi korban pihak nan menyalahgunakan AI alias kepintaran buatan. Gambar-gambar cabul nan dihasilkan AI dari penyanyi paling terkenal di bumi itu sempat beredar luas di media sosial. Ini menunjukkan potensi kerusakan oleh teknologi AI, ialah keahlian membikin gambar nan terlihat sangat nyata dan merusak.

Gambar tiruan Taylor Swift sebagian besar beredar di situs media sosial X, alias Twitter. Foto-foto tersebut menunjukkan dia dalam posisi nan menjurus ke arah seksual dan definitif dan telah dilihat puluhan juta kali sebelum dihapus.

Taylor Swift dilaporkan murka dan mempertimbangkan kemungkinan menggugat situs nan bertanggung jawab menghasilkan foto tersebut. "Apakah tindakan norma bakal diambil alias tidak sedang diputuskan tetapi ada satu perihal nan jelas, gambar tiruan nan dihasilkan AI ini berkarakter kasar, menyinggung, eksploitatif dan dilakukan tanpa persetujuan dan/atau sepengetahuan Taylor," kata sumber.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lingkaran family dan kawan Taylor sangat marah, begitu pula para penggemar. Mereka mempunyai kewenangan untuk itu, dan setiap wanita semestinya demikian," tambah dia nan dikutip detikINET dari New York Post, Sabtu (27/1/2024).

Insiden ini terjadi saat Amerika Serikat memasuki tahun Pilpres. Kecemasan kian meningkat mengenai gimana gambar dan video menyesatkan AI dapat digunakan untuk mendorong upaya disinformasi.

"Ini adalah contoh utama gimana AI digunakan untuk beragam argumen jahat tanpa adanya pembatas nan cukup untuk melindungi publik," kata Ben Decker, analis badan investigasi digital Memetica.

Decker mengatakan pemanfaatan perangkat AI generatif untuk membikin konten nan berpotensi membahayakan nan menargetkan tokoh masyarakat meningkat dan menyebar lebih sigap dari sebelumnya di media sosial. "Perusahaan media sosial tak punya rencana efektif untuk memantau kontennya," katanya.

X, misalnya, telah membuang sebagian besar tim moderasi kontennya dan mengandalkan sistem otomatis dan pelaporan pengguna. Meta juga mengurangi jumlah tim nan menangani disinformasi.

Decker menyebut, bagaimanapun kasus Taylor Swift ini dapat membawa lebih banyak perhatian terhadap rumor nan berkembang akibat AI. Fans setia Swifties nan sangat besar mengungkapkan kemarahan di media sosial dan membawa masalah ini ke permukaan.

"Ketika Anda mempunyai tokoh-tokoh seperti Taylor Swift nan diincar sebesar ini, mungkin inilah nan mendorong para legislator dan perusahaan teknologi mengambil tindakan," katanya.

(fyk/fay)