Jangan Lupa Sunscreen! WHO Sebut Kematian Kanker Kulit Meningkat 2 Kali Lipat

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut paparan mentari dalam jangka waktu lama bisa berakibat pada kesehatan kulit. Matahari sendiri terdiri dari radiasi ultraviolet. Jika jenis radiasi ini mengenai sel kulit, otomatis dapat merusak sel DNA hingga berujung kanker.

Saat kondisi tersebut terjadi, sel-sel kulit pada dasarnya tumbuh tidak terkendali. Ada dua jenis utama kanker kulit ialah melanoma alias jenis nan lebih mematikan dan non-melanoma, jenis nan tidak terlalu mematikan tetapi jauh lebih umum ditemukan.

Kanker kulit non-melanoma biasanya ditandai dengan munculnya benjolan merah alias bercak datar dan bersisik nan tidak sembuh selama beberapa minggu. Kondisi ini kerap dialami pekerja di luar ruangan, akibat terkena apalagi mencapai 60 persen lebih tinggi dibandingkan mereka nan sehari-harinya berada di dalam ruangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jenis kanker kulit ini tidak hanya terlihat pada wajah, telinga, alias kepala, tetapi juga di lengan dan tungkai.

"Lebih banyak orang nan bekerja di luar ruangan dan meninggal akibat kanker kulit non-melanoma akibat paparan ini dibandingkan nan dapat kita bayangkan sebelum melakukan perkiraan. Sekitar 1 dari 4 pekerja di seluruh bumi terpapar sinar mentari nan intens saat bekerja. Itu berfaedah 1,6 miliar orang di seluruh dunia," terang Technical Officer WHO dr Frank Pega dalam siaran resmi, Kamis (25/1/2024).

"Jadi mereka adalah para petani di sawah, pekerja bangunan, orang-orang nan bekerja di sektor non-organisasi selama berjam-jam di bawah sinar mentari nan terik," sambungnya.

Kelompok pekerja luar ruangan nan sebagian besar tinggal di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah seringkali bekerja di sektor perekonomian informal. Mereka tidak mempunyai perlindungan kesehatan nan bisa diberikan oleh pekerjaan formal.

Satu dari tiga kematian akibat kanker kulit non-melanoma sebenarnya disebabkan oleh bekerja di bawah sinar matahari. Berarti, ada sekitar 19.000 kematian secara dunia setiap tahunnya.

"Jika Anda bekerja di luar ruangan, Anda berisiko lebih tinggi dan kami menemukan bahwa jumlah orang nan meninggal akibat kanker kulit non-melanoma di setiap wilayah per populasi nyaris sama. Jadi ini adalah masalah global. Selain itu, ini merupakan masalah nan semakin besar lantaran jumlahnya meningkat dua kali lipat dalam 20 tahun terakhir," sambungnya.

WHO mengimbau pemerintah untuk mengeluarkan peraturan dan kebijakan nan bisa mencegah intensitas bekerja di luar ruangan terlalu tinggi.

Selain itu, pemerintah disebut dapat memberikan info akibat kesehatan kepada masyarakat.

"Ini sangat penting. Mereka dapat berbincang tentang protokol keselamatan mentari dan tindakan perlindungan nan dapat diambil. Hal ini juga krusial lantaran terdapat persyaratan agar pekerja diberikan busana pelindung. Mereka dapat mengenakan topi berpinggir lebar, kemeja lengan panjang, celana panjang, dan juga dapat menyediakan tabir surya alias sunscreen," sambungnya.

"Selain itu, krusial bagi kita untuk mempunyai jasa dan sistem kesehatan nan berfaedah untuk mencegah kanker kulit dan memeriksa pekerja secara rutin sehingga kanker kulit dapat dideteksi sejak awal dan dapat diobati," kata dia.

Simak Video "Kosmetik Ber-SPF Cuma Bonus, Wajah Harus Tetap Pakai Sunscreen"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)