Mengenali Mythomania pada Kaum Remaja: Penyakit Psikologis yang Halu

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Mythomania, alias sering disebut juga sebagai sindrom penceritaan bohong patologis, adalah suatu kondisi psikologis di mana seseorang condong untuk secara terus-menerus berbohong tanpa rasa bersalah alias penyesalan. Meskipun bisa terjadi pada beragam golongan usia, namun kita sering memandang adanya kecenderungan mythomania pada kaum remaja.

Artikel ini bakal mengulas lebih dalam tentang apa itu mythomania, faktor-faktor nan mempengaruhinya pada kaum remaja, serta gimana mengenali dan menanggulangi kondisi tersebut.

Apa Itu Mythomania?

Mythomania adalah suatu kondisi di mana seseorang mengembangkan kecenderungan mendusta secara kronis, terlepas dari motivasi alias tujuan tertentu. Orang nan mengalami mythomania mungkin menciptakan cerita-cerita nan tidak betul untuk mendapatkan perhatian, pujian, alias untuk meningkatkan rasa nilai diri mereka.

Perbedaan antara mythomania dengan ketidakejujuran biasa adalah bahwa orang nan mengalami mythomania tidak selalu menyadari bahwa mereka berbohong, dan mereka seringkali mempercayai cerita-cerita nan mereka ciptakan.

Faktor-Faktor nan Memengaruhi Kaum Remaja

Dorongan untuk Diterima dan Dihargai: Kaum remaja seringkali mengalami tekanan sosial dan kemauan untuk diterima oleh teman-teman mereka. Jika seorang remaja merasa bahwa cerita-cerita bohong dapat membikin mereka lebih menarik alias disukai, mereka mungkin condong mengembangkan mythomania.

Rasa Rendah Diri: Kaum remaja nan merasa rendah diri alias tidak percaya diri dapat menggunakan mendusta sebagai langkah untuk menciptakan gambaran diri nan lebih positif. Mereka mungkin berpikir bahwa dengan menciptakan cerita-cerita nan mengagumkan, mereka dapat merasa lebih dihormati alias diakui.

Kurangnya Keterampilan Sosial: Beberapa remaja mungkin kesulitan dalam berinteraksi sosial dan merasa bahwa dengan menciptakan cerita-cerita dramatis, mereka dapat menarik perhatian dan menjalin hubungan dengan orang lain.

Pengaruh Media Sosial: Tren penggunaan media sosial pada remaja dapat memainkan peran dalam perkembangan mythomania. Dorongan untuk mempresentasikan kehidupan nan sempurna alias mendapatkan banyak likes dan komentar di media sosial bisa menjadi motivasi untuk menciptakan narasi bohong.

Bagaimana Mengenali Mythomania pada Kaum Remaja?

Perhatikan Pola Berbohong nan Konsisten: Jika seorang remaja seringkali memberikan cerita-cerita nan terlalu dahsyat dan susah untuk diverifikasi, mungkin ada tanda-tanda mythomania.

Reaksi Emosional nan Tidak Wajar: Orang nan mengalami mythomania mungkin tidak menunjukkan rasa bersalah alias penyesalan setelah berbohong. Jika seorang remaja tampak tenang setelah memberikan cerita nan tidak masuk akal, perihal ini bisa menjadi indikator.

Pemeriksaan Fakta: Jika ada kecurigaan terhadap suatu cerita, mencoba untuk memeriksa kebenaran alias mendapatkan konfirmasi dari sumber lain dapat membantu mengidentifikasi kebenaran.

Penanggulangan Mythomania pada Kaum Remaja

Bimbingan Psikologis: Psikoterapi alias konseling dapat membantu remaja untuk mengidentifikasi akar persoalan dan mengembangkan keahlian sosial nan sehat.

Penguatan Harga Diri: Membantu remaja mengembangkan rasa nilai diri nan positif melalui support family dan lingkungan sosial dapat mengurangi dorongan untuk berbohong.
Pendidikan tentang Konsekuensi Berbohong: Memberikan pemahaman tentang akibat negatif dari mendusta dapat membantu remaja menyadari pentingnya kejujuran dalam hubungan sosial.

Mengenali mythomania pada kaum remaja adalah langkah awal untuk memberikan support nan dibutuhkan. Dengan pemahaman nan lebih baik tentang faktor-faktor nan memengaruhi kondisi ini, kita dapat bekerja sama untuk menciptakan lingkungan nan mendukung perkembangan sosial dan psikologis nan sehat pada generasi muda.