Temukan Work Life Balance Biar Nggak Kecanduan Kerja dari Buku 'Selow Aja'

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Menemukan work life balance, alias keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan adalah salah satu perihal nan dapat membikin hidup kita tenang. Terlebih saat tuntutan kerja seakan tidak ada habisnya. 

Sebagaimana nan dialami oleh Bryan E. Robinson. Menjadi kecanduan bekerja membikin dia pada akhirnya kudu menjalani beberapa sesi konseling lantaran telah terjebak dalam toxic productivity. Ia mempunyai kecenderungan untuk terus berkutat pada pekerjaannya, apalagi ketika hari libur telah tiba. 

Berdasarkan pengalaman tersebut, Robinson kemudian menulis buku nan berjudul #Selowaja, Nonaktifkan Pekerjaanmu dan Aktifkan Hidupmu.

Di dalamnya, dia memaparkan gimana semestinya kita bisa bersikap selow alias santuy dalam menjalani aktivitas. 

Tapi bukan berfaedah kita bermalas-malasan juga. Robinson mengatakan bahwa santuy bukanlah apa nan kita lakukan, tetapi perihal tersebut adalah pola pikir, untuk ada di dunia. 

Untuk itu, kitab ini memaparkan banyak kiat-kiat nan bisa menjadi pola pikir kita agar mencapai keseimbangan antara hidup dan pekerjaan.  

Uniknya, kiat-kiat tersebut dibahas berasas pembagian bulan, dari Januari sampai Desember.

Misalnya pada bulan Januari, terdapat beberapa kiat dalam mengawali hidup dengan sedikit lebih santai. Hingga Desember tiba, kita akhirnya bisa enjoy dalam menjalani pekerjaan tersebut. 

Beberapa kiat nan saya garis bawahi di antaranya adalah tentang trifecta pengurangan stress, nan menurut Robinson terdiri atas porsi tidur nan cukup, makanan bergizi, dan olahraga nan teratur.

Ini adalah salah satu aspek nan bisa mendukung kita agar bisa mencapai work life balance. Namun sayangnya, banyak di antara kita nan menganggap remeh perihal tersebut ketika telah tenggelam dalam pekerjaan. 

Selain itu juga ada pembahasan tentang pentingnya mengambil jarak dengan melangkah kaki. Apalagi jika kita menghabiskan banyak waktu dengan duduk untuk bekerja.

Sebab pada dasarnya, tubuh tidak dirancang untuk duduk lama. Hal ini bisa menurunkan angan hidup lantaran meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular. 

Kemudian di akhir bab, ada pedoman 366 hari nan bisa langsung diterapkan berasas keseluruhan kiat nan disampaikan dalam kitab ini. Hal ini tentu bakal semakin memudahkan pembaca untuk mengaplikasikan apa nan sudah dipelajari. 

Namun sayangnya, saya mendapati beberapa poin nan berulang dalam kitab ini. Mungkin pembahasannya bakal lebih ringkas jika penulis tidak membahas sesuatu nan sudah dijelaskan di bab sebelumnya. 

Tapi secara keseluruhan, kitab ini cukup menarik. Terakhir ada pesan dari penulis nan semoga bisa jadi reminder. Bahwa pekerjaanmu bakal mengisi sebagian besar hidupmu, dan satu-satunya langkah untuk betul-betul puas adalah dengan melakukan apa nan Anda yakini sebagai pekerjaan hebat. Selamat membaca!

Cek buletin dan tulisan lainnya di GOOGLE NEWS.